neurobiologi kebosanan investasi
mengapa strategi paling membosankan seringkali yang paling menguntungkan
Pernahkah kita memandangi layar smartphone, melihat angka saham atau kripto berkedip merah dan hijau, lalu merasakan jantung berdebar sedikit lebih cepat? Saya jujur, sering sekali. Kita semua pada dasarnya ingin mencapai kebebasan finansial dengan cara yang seru. Kita mencoba day trading, menebak arah pasar, atau ikut-ikutan tren koin digital yang sedang viral dibicarakan orang. Rasanya sangat mendebarkan. Kita merasa seperti sedang menjadi tokoh utama yang jenius di film-film Wall Street. Tapi sadarkah teman-teman, keseruan yang memabukkan inilah yang justru sering membuat dompet kita menangis berdarah-darah? Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks yang aneh. Dalam dunia investasi, semakin kita merasa bosan, biasanya portofolio kita akan semakin sehat dan tebal. Pertanyaannya, jika menjadi bosan itu sangat menguntungkan, mengapa otak kita mati-matian membenci kebosanan tersebut?
Untuk menjawabnya, mari kita mundur sedikit ke puluhan ribu tahun yang lalu. Nenek moyang kita hidup di alam liar yang keras. Bagi mereka, duduk diam merenung bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Kalau mereka diam saja, pilihannya hanya dua: mereka akan kelaparan, atau mereka akan dimakan oleh hewan buas. Bertindak cepat dan terus bergerak adalah kunci utama bertahan hidup. Di sinilah evolusi membentuk sistem hadiah atau reward system di dalam kepala kita. Setiap kali nenek moyang kita menemukan pohon buah yang manis atau berhasil berburu, otak mereka menyemprotkan dopamine. Ini adalah hormon antisipasi dan kesenangan. Masalah utamanya adalah, sistem operasi purba ini masih bersarang utuh di kepala kita sampai hari ini. Otak manusia secara alami mengidap apa yang dalam psikologi disebut sebagai action bias. Ini adalah kecenderungan bawaan untuk selalu ingin bertindak. Kita merasa bahwa melakukan sesuatu—apalagi jika itu penuh risiko dan mendebarkan—pasti jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.
Sekarang, bayangkan otak purba yang haus aksi ini dibawa masuk ke era finansial modern. Kita berhadapan langsung dengan aplikasi investasi yang sengaja dirancang bagaikan video game. Ada bunyi notifikasi yang khas, grafik yang terus bergerak naik-turun, dan warna-warni cerah yang memanjakan mata. Industri keuangan modern sangat paham cara meretas neurobiologi kita. Mereka mengeksploitasi striatum, bagian terdalam di otak kita tempat dopamin diproses. Membeli dan menjual aset secara impulsif karena membaca berita pagi ini memberikan sensasi yang sama persis dengan menarik tuas mesin slot jackpot di kasino. Otak kita bersorak kegirangan karena mendapat asupan dopamin instan. Tapi tunggu dulu. Jika secara biologis kita memang dirancang untuk terus bergerak dan mencari sensasi, apakah ini berarti kita semua ditakdirkan untuk gagal dalam berinvestasi? Bagaimana caranya para investor legendaris di luar sana bisa mengumpulkan kekayaan luar biasa, jika otak mereka juga sama purbanya dengan kita? Rahasianya ternyata bersembunyi pada cara mereka memperlakukan rasa bosan.
Inilah fakta ilmiah yang hardcore namun mungkin sulit diterima oleh ego kita. Secara konsisten, berbagai riset sejarah pasar modal membuktikan bahwa strategi berinvestasi pasif hampir selalu mengalahkan strategi aktif. Menaruh uang secara rutin di instrumen yang luas seperti reksadana indeks, lalu membiarkannya tidur selama belasan tahun, jauh lebih menguntungkan daripada sibuk menebak kapan harus beli dan jual setiap hari. Paul Samuelson, seorang ekonom peraih Nobel, pernah memberikan sebuah kutipan yang sangat indah. Ia berkata bahwa investasi yang benar itu seharusnya seperti melihat cat mengering, atau melihat rumput tumbuh. Sangat amat membosankan. Ketika kita sengaja memilih rute membosankan ini, kita sebenarnya sedang melatih prefrontal cortex kita. Ini adalah bagian otak berevolusi paling baru yang bertanggung jawab atas logika, perencanaan masa depan, dan pengendalian emosi. Orang yang sukses membangun kekayaan bukanlah mereka yang punya bola kristal untuk memprediksi pasar. Mereka hanyalah orang-orang biasa yang berhasil menaklukkan kebutuhan biologis mereka akan dopamin. Mereka menahan diri dari aksi, membiarkan kebosanan mengambil alih, dan membiarkan compound interest (bunga majemuk) bekerja melipatgandakan uang mereka dalam keheningan.
Jadi, teman-teman, jangan pernah merasa bersalah jika selama ini kita sering gatal ingin memencet tombol "beli" atau "jual" hanya karena melihat influencer pamer keuntungan. Itu sama sekali bukan karena kita kurang cerdas. Itu hanyalah sisa-sisa biologi purba kita yang sedang meronta meminta perhatian. Namun, karena sekarang kita sudah tahu rahasia neurobiologinya, kita bisa mulai mengakali otak kita sendiri. Jadikan proses investasi kita seotomatis dan semembosankan mungkin. Buatlah sistem potong saldo otomatis setiap bulan sehabis gajian, belikan aset fundamental yang aman, lalu lupakan keberadaannya. Hapus aplikasinya dari layar utama smartphone jika perlu. Lalu, bagaimana jika kita masih butuh asupan dopamin dan rasa tegang? Carilah di tempat yang benar. Tontonlah film thriller yang menegangkan, mainkan game kompetitif bersama teman, atau cobalah olahraga yang memacu adrenalin. Tapi khusus untuk urusan masa depan finansial kita, mari kita belajar untuk memeluk erat rasa bosan. Karena seringkali, di ujung jalan yang paling sunyi dan membosankan itulah, kebebasan finansial sedang duduk manis menunggu kita.